Dampak Pengurangan
Subsidi BBM
terhadap Inflasi
terhadap Inflasi
Dalam rangka memenuhi tugas pembuatan makalah OSN 2013
JUDUL
Oleh:
Adam Jordan
SMA Kristen Yusuf
DKI JAKARTA
|
OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG
EKONOMI
TAHUN 2013
|
Kata
Pengantar
Sebelumnya penulis ingin
mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmat dan pertolongannya,
penulis bisa menyelesaikan makalah ekonomi yang berjudul “Peran Bank Indonesia
melawan Inflasi yang disebabkan BBM”.
Penulis juga ingin
berterimakasih kepada juri-juri serta panitia OSN 2013 karena telah meluangkan
waktunya untuk membaca makalah ini.
Selain itu, penulis juga ingin berterimakasih kepada teman-teman peserta
OSN provinsi DKI Jakarta, serta guru-guru yang telah mendukung penulis dalam
pembuatan makalah ini dan memberikan masukan yang sangat berarti dan berguna
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat
dengan tujuan mengetahui peran-peran Bank Indonesia dalam membantu perekonomian
indonesia dalam mengatasi inflasi yang terjadi karena kenaikan harga BBM.
Penulis menyadari masih
banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, penulis ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada
kesalahan atau sesuatu yang tidak berkenan.
Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dapat
menjadi motivasi penulis dalam membuat makalah yang lebih baik lagi.
Jakarta, 24 Agustus 2013
Penulis
Daftar Isi
BAB I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang Masalah
Ditinjau dari segi teknisnya, bahan bakar merupakan
suatu materi yang dapat diubah menjadi energi.
Pada kehidupan sehari-hari, setiap kegiatan yang kita lakukan tidak
terlepas dari penggunaan bahan bakar.
Salah satu bahan bakar yang paling sering kita gunakan adalah Bahan
Bakar Minyak (BBM).
Dari segi ekonomis, Bahan Bakar Minyak (BBM)
merupakan suatu faktor penentu kelangsungan perekonomian suatu negara. BBM sangat diperlukan oleh berbagai pelaku
ekonomi dalam melakukan berbagai aktivitasnya.
Sebagai sumber energi dalam beraktivitas, penggunaan BBM merupakan suatu
hal yang diperlukan baik oleh rumah tangga konsumsi, hingga rumah tangga
produksi atau perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
Selain itu, dari segi transportasi, keberadaan BBM
merupakan suatu hal yang sangat penting.
Sebagai sumber energi tenaga penggerak, BBM berkaitan erat dengan sistem
transportasi. Dengan tersedianya BBM,
hal ini akan mampu menunjang kemajuan suatu bangsa, karena kemajuan suatu
bangsa ditentukan oleh kemudahan dan akses transportasi yang baik.
Namun seiring dengan keadaan perekonomian yang
terjadi, harga BBM pun tidak lepas dari kenaikan harga. Kenaikan harga BBM hampir terjadi setiap
tahunnya. Naiknya harga BBM di indonesia
diawali oleh naiknya harga minyak dunia. Hal ini akan menyebabkan pemerintah
tidak dapat menjual BBM kepada masyarakat dengan harga yang sama dengan harga
sebelumnya, karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran APBN untuk subsidi
minyak menjadi lebih tinggi.
Untuk mencegah semakin besarnya defisit APBN, maka
pemerintah mengambil langkah untuk menaikkan harga BBM. Dan untuk mengimbangi
masalah melonjaknya harga BBM setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan
kebijakan subsidi BBM. Kebijakan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) bertujuan
mengatasi kelebihan beban APBN. Sebab jika tidak dilakukan, APBN dapat
dipastikan akan semakin mengalami penurunan. Hal ini akan berdampak langsung
pada terhambatnya pembangunan nasional.
Setelah sekian lama kebijakan subsidi BBM
dijalankan , timbul berbagai kontravensi untuk segera menghentikan kebijakan
subsidi BBM. Banyak para pihak yang
berpendapat bahwa pada kenyataannya, kebijakan subsidi BBM ini tidak berjalan
secara efektif, namun sebaliknya jauh dari tujuan semula dan dianggap “salah
sasaran”. Subsidi BBM yang pada awalnya ditujukan kepada masyarakat kurang
mampu, namun kenyataannya subsidi ini lebih banyak dinikmati oleh masyarakat
yang seharusnya tidak pantas menerimanya.
Selama ini pemerintah terus memberi subsidi untuk BBM yang dikeluarkan
dari APBN. Dimana subsidi BBM ini memakan porsi yang cukup besar dari
APBN. Subsidi BBM yang melambung tinggi
dan terus menekan APBN menyebabkan perekonomian indonesia semakin parah. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk
mencabut dan mengurangi subsidi BBM tersebut.
Subsidi BBM yang dikurangi tersebut tentunya akan
menyebabkan harga BBM naik yang pada akhirnya menyebabkan harga barang-barang
dan jasa yang ada di pasar juga naik.
Inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM ini akan menyebabkan banyak
dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.
1.2 Rumusan
masalah
Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa
permasalahan yang muncul pada penelitian ini adalah :
1.
Apa yang menyebabkan harga BBM naik?
2.
Bagaimana keberadaan subsidi BBM?
3.
Apakah kebijakan subsidi BBM tersebut berjalan
efektif?
4.
Apa dampak pengurangan subsidi BBM terhadap
inflasi?
5.
Apa dampak inflasi yang terlalu besar terhadap
masyarakat?
Peneltitian ini dibatasi pada kenaikan harga-harga
barang atau inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM. Penyebab kenaikan harga BBM difokuskan pada
karena pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah.
Selain itu, inflasi yang terjadi dibatasi pada inflasi yang terjadi pada
tahun 2013.
1.4 Tujuan Penelitian
Melalui pembuatan makalah ini, makalah ini
dimaksudkan untuk memperoleh tujuan:
1.
Untuk mengetahui penyebab kenaikan harga BBM.
2.
Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana
pelaksaan dan keberadaan subsidi BBM yang sudah dilakukan.
3.
Untuk mengetahui dampak pengurangan subsidi BBM
terhadap inflasi.
4.
Untuk mengetahui dampak inflasi yang terlalu besar
terhadap masyarakat.
1.5 Hipotesis
Berdasarkan hipotesis peneliti, kenaikan harga BBM
disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena pengurangan
subsidi BBM. Kenaikan harga BBM tersebut
juga akan berkontribusi besar pada naiknya harga-harga barang-barang di pasar
yang akhirnya akan menimbulkan inflasi.
Inflasi yang terlalu besar adalah hal yang tidak baik bagi perekonomian,
karena akan menimbulkan banyak masalah-masalah baru.
BAB II
Landasan Teori
2.1 Penawaran
2.1.1 Definisi Penawaran
Penawaran dapat
didefinikan sebagai jumlah barang yang produsen ingin tawarkan atau jual pada
berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu.
2.1.2 Hukum
Penawaran
Bahwa
semakin tinggi harga, jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak. Sebaliknya
semakin rendah harga barang, jumlah barang yang ditawarkan semakin sedikit.
Inilah yang disebut hukum penawaran. Hukum penawaran menunjukkan keterkaitan
antara jumlah barang yang ditawarkan dengan tingkat harga. Dengan demikian
bunyi hukum penawaran berbunyi:
"Semakin
tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan.
Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang
bersedia ditawarkan.” (sumber: id.wikipedia.org)
Hukum
penawaran akan berlaku apabila faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran
tidak berubah (ceteris paribus).
2.1.3 Faktor
Penawaran
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi penawaran
suatu barang adalah:
1.
Harga barang itu sendiri
2.
Harga barang lain yang terkait
3.
Harga faktor produksi
4.
Biaya produksi
5.
Teknologi produksi
6.
Jumlah penjual
2.2 Permintaan
2.2.1 Definisi
Permintaan
Permintaan dapat didefinisikan sebagai sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu.
Permintaan dapat didefinisikan sebagai sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu.
2.2.2 Hukum
Permintaan
Hukum
permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat
negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga
naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang
yang diminta meningkat. Dengan demikian hukum permintaan berbunyi:
“Semakin
turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta,
dan sebaliknya semakin naik tingkat harga semakin sedikit jumlah barang yang
bersedia diminta.” (sumber: id.wikipedia.org)
Pada
hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya hukum
permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau faktor-faktor selain harga tidak
berubah (dianggap tetap).
2.3 Inflasi
2.3.1 Pengertian Inflasi
Inflasi adalah kenaikan
harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus.(sumber: TIM LOPI,
2011). Dari definisi ini ada tiga
komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan terjadi inflasi:
·
Kenaikan harga
·
Bersifat umum
·
Berlangsung terus-menerus
2.3.2 Penggolongan
Inflasi
Inflasi dapat digolongkan sebagai berikut:
1)
Penggolongan didasarkan atas “parah” tidaknya
inflasi
a.
Inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun, single
digit inflation)
b.
Inflasi sedang (10% sampai 30% per tahun)
c.
Inflasi berat (30% sampai 100% per tahun)
d.
Hiperinflasi ( lebih dari 100% per tahun)
2)
Penggolongan didasarkan sumber penyebabnya
a.
Inflasi tarikan permintaan (Demand-pull inflation)
b.
Inflasi dorongan biaya (Cost-push inflation)
c.
Inflasi campuran (Mixed inflation)
3)
Penggolongan didasarkan asal inflasi
a.
Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic
inflation)
b.
Inflasi yang berasal dari luar negeri (Imported
inflation)
2.3.3 Teori inflasi
1. Teori kuantitas
Teori ini menyoroti
hal-hal yang berperan dalam proses inflasi, yaitu jumlah uang beredar dan
anggapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga. Teori ini dikemukakan oleh Irving
Fisher. Adapun rumusnya sebagai berikut:
MV = PT
2. Teori Keynes
Menurut John Maynard
Keynes, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas
kemampuan ekonominya. permintaan
masyarakat terhadap barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang
tersedia dan menimbulkan celah inflasi atau inflationary gap. Permintaan yang
meningkat menyebabkan harga barang naik dan terjadi inflasi.
3. Teori Strukturalis
Teori ini didasarkan
atas pengalaman di Negara-negara amerika latin. Teori ini memberikan perhatian
yang besar terhadap struktur perekonomian Negara-negara sedang berkembang. Hal
ini disebabkan inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari
perekonomian. Menurut teori ini, ada dua hal penting dalam perekonomian
Negara-negara sedang berkembang yang dapat menimbulkan inflasi.
2.3.4 Indikator
Inflasi
Ada beberapa indikator
ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama satu periode
tertentu, diantaranya:
1. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index)
Indeks Harga Konsumen
(IHK) adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang
harus dibeli konsumen dalam satu periode tertentu. Angka IHK diperoleh dengan menghitung
harga-harga barang dan jasa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode
tertentu.
2. Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholesale Price
Index)
Indeks Harga Perdagangan
Besar (IHPB) menunjukkan tingkat harga yang diterima pada berbagai tingkat
produksi.
3. Indeks Harga Implisit (GDP Deflator)
Walaupun sangat
bermanfaat, IHK dan IHPB memberikan gambarang laju inflasi yang sangat
terbatas. Sebab, dilihat dari metode
perhitungannya, kedua indikator tersebut hanya melingkupi beberapa puluh atau
mungkin ratus jenis barang jasa, di beberapa puluh kota saja. Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang
paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan indeks harga implisit
(GDP Deflator), disingkat IHI.
BAB III
Metodologi Penelitian
3.1 Gambaran Objek Penelitian
Pasar Jembatan Dua yang terletak di Jakarta Utara
merupakan salah satu pasar yang cukup banyak didatangi oleh masyarakat
disekitarnya. Oleh karena itu, Pasar
Jembatan Dua merupakan suatu objek penelitian yang tepat untuk dijadikan sampel
penelitian guna mengetahui bagaimana keadaan pasar serta fluktuasi harga yang
terjadi setelah pengurangan subsidi BBM.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di pasar yang terletak di
daerah Jembatan Dua, Jakarta Utara.
Pengambilan data dilakukan pada tanggal 20 Agustus 2013 pukul 06.00
sampai 09.00.
3.3 Metode Pengambilan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa
metode sebagai berikut:
1. Ditinjau
berdasarkan sifat permasalahan
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional,
karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya dan besar
kecilnya hubungan berbagai variable. Walau tidak diketahui hubungan tersebut
sebagai hubungan sebab akibat atau bukan.
2. Ditinjau
berdasarkan asal datanya
Penelitian ini menggunakan sumber penelitian primer
dan sumber penelitian sekunder, karena selain data dikumpulkan sendiri oleh
peneliti, dari data yang dulunya belum ada harus dicari sendiri dan dikumpulkan
sendiri oleh peneliti. Namun juga data
penelitian dari sumber sekunder, yaitu didapat dari berbagai sumber seperti
buku, lampiran serta internet.
3. Ditinjau
berdasarkan dasar analisis data yang akan digunakan
Metode
yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian
tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis
dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih
ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.
3.4 Teknik Pengambilan Data
Untuk mengumpulkan data, dilakukan teknik
pengambilan data, diantaranya adalah studi literatur dan melakukan wawancara
serta tinjauan langsung. Studi literatur yaitu melakukan pengambilan data dari beberapa sumber seperti internet, lampiran, dan buku. Serta dilakukan wawancara, yaitu melaksanakan tanya jawab terhadap narasumber demi mengumpulkan data.
BAB IV
Pembahasan
4.1 Penyebab Kenaikan harga BBM
Kenaikan harga BBM memiliki berbagai macam penyebab, di antaranya adalah:
1)
Naiknya harga minyak dunia. yang
membuat pemerintah tidak dapat menjual BBM kepada masyarakat dengan harga yang
sama dengan harga sebelumnya, karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran APBN
untuk subsidi minyak menjadi lebih tinggi. Maka pemerintah mengambil langkah
untuk menaikkan harga BBM.
2)
Harga BBM bersubsidi Rp 4.500 terlalu
murah, jauh berbeda dengan harga BBM industri yang mencapai Rp 9.300. Harga BBM
Indonesia juga termurah di kawasan ASEAN. Harga BBM Indonesia sangat murah jika
dibandingkan misalnya dengan Vietnam (RON 92) Rp 15.553; Laos Rp 13.396;
Kamboja Rp 13.298; dan Myanmar Rp 10.340.
3)
Harga BBM fosil yang murah,
menghambat munculnya energi alternatif. Bahan bakar nabati, baik berbasis
etanol maupun CPO, tidak bisa bersaing. Bahan bakar alternatif seperti gas
tidak berkesempatan tumbuh karena harganya relatif dekat dengan BBM bersubsidi.
4)
Sejak awal dekade 2000, Indonesia
telah beralih status dari negara eksportir menjadi net importir minyak. Dengan
importasi BBM dan minyak mentah yang mencapai lebih sepertiga dari kebutuhan
nasional, harga BBM nasional sangat bergantung pada harga internasional.
5)
Subsidi BBM yang berlangsung selama
ini tidak sesuai ketentuan UU 30/2007 tentang Energi. Di dalam Pasal 7 Ayat (2)
disebutkan bahwa subsidi disediakan untuk kelompok masyarakat tidak mampu.
Namun kenyataannya, subsidi BBM dinikmati lebih 70 persen oleh kelas menengah
pemilik mobil pribadi dan sepeda motor bersilinder tinggi.
6)
Seperlima APBN telah tersedot untuk
subsidi energi yang bersifat konsumtif. Hal ini membuat ruang gerak belanja
negara untuk sektor produktif yang lebih bersifat jangka panjang menjadi
terbatas.
4.2 Keberadaan subsidi BBM
Berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia
membutuhkan BBM sebagai komponen penunjangnya, mulai dari transportasi yang
membutuhkan solar dan premium serta rumah tangga yang membutuhkan LPG. Dengan
begitu, kebutuhan akan BBM menjadi terus bertambah dan meningkatkan demand
terhadap BBM dalam negeri. Di sisi lain, produksi minyak mentah di Indonesia
semakin menurun dari tahun ke tahun sehingga mengharuskan pemerintah melakukan
ekspor minyak. Hal tersebut akan mempengaruhi anggaran belanja negara.
Anggaran pemerintah sesuai dengan APBN 2013 untuk
subsidi yaitu sebesar Rp317,8 triliun. Sedangkan untuk subsidi energi sendiri
sebesar Rp274,7 triliun dengan rincian subsidi BBM sebesar Rp193,8 triliun dan
subsidi listrik sebesar Rp80,9 triliun. Apabila dibandingkan dengan APBN 2012,
dapat dilihat bahwa subsidi BBM tahun 2013 naik sebesar Rp56,4 triliun. BBM
yang disubsidi oleh pemerintah adalah solar serta bensin yang digunakan untuk
transportasi dan LPG yang digunakan untuk rumah tangga.
Jika melihat rincian komponen anggaran belanja
negara, anggaran untuk subsidi BBM jauh lebih besar daripada anggaran kesehatan
yang hanya sebesar Rp17,4 triliun. Di sisi lain, anggaran untuk pendidikan pun
lebih kecil dibandingkan anggaran untuk BBM yakni sebesar Rp118,4 triliun.
Dengan demikian, dapat disaksikan bahwa anggaran untuk pendidikan serta
kesehatan lebih kecil dibandingkan dengan subsidi BBM. Padahal, kesehatan serta
pendidikan merupakan dua hal yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga
seharusnya pemerintah lebih memprioritaskan alokasi anggaran untuk kedua hal
tersebut.
Anggaran subsidi energi memiliki proporsi terbesar
dari semua subsidi yang diberikan berasal dari kas negara, dengan proporsi
sekitar 18% dari total APBN. Subsidi energi meliputi bahan bakar minyak (BBM),
Liquefied Petroleum Gas (LPG), tabung 3 kg, dan liquefied gas for vehicle
(LGV). Keempat energi itu disubsidi agar harga yang diterima masyarakat dapat
terjangkau. Realisasi anggaran subsidi energi meningkat cukup signifikan
disebabkan beberapa hal berikut.
1)
Perubahan parameter subsidi energi, yaitu ICP,
nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika serikat, volume konsumsi BBM
bersubsidi, bauran energi dalam produksi tenaga listrik dan penjualan tenaga
listrik.
2)
Kebijakan penetapan harga BBM bersubsidi dan tarif
tenaga listrik.
Dalam
kurun waktu 2007–2013, realisasi anggaran subsidi BBM dan LPG tabung 3 kg
secara nominal mengalami peningkatan sebesar Rp53,6 triliun atau tumbuh
rata-rata 10,4% per tahun. Perkembangan realisasi anggaran belanja subsidi ini
dipengaruhi oleh harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dalam periode
2007-2012 mengalami kenaikan sebesar USD 32,7/barel atau 50,7%. Tahun 2012, ICP
berada pada level USD 105,0/barel.
Selain pengaruh harga ICP, peningkatan realisasi
anggaran yang juga dipengaruhi oleh peningkatan volume konsumsi BBM yang
diperkirakan mencapai 40 juta kiloliter. Peningkatan ini dikarenakan adanya
peningkatan jumlah kendaraan bermotor.
Dalam NK-APBN Tahun Anggaran 2013 yang dipublikasikan
Kementerian Keuangan, pemerintah mengisyaratkan akan menyesuaikan harga jual
eceran BBM bersubsidi jika nantinya beban subsidi yang dipandang sudah
memberatkan APBN. Beban subsidi yang relatif tinggi akan mengganggu ketahanan
fiskal negara dalam jangka pendek atau jangka menengah. Indonesia pernah
menurunkan harga BBM pada rentang periode Desember 2008–Januari 2009 karena
adanya penurunan ICP hingga USD38,5/barel. Penurunan tersebut dilakukan
sebanyak tiga kali yakni 8,3% pada awal Desember 2008, sebesar 10,9% di
pertengahan Desember 2008, serta sebesar 8,1% pada bulan Januari 2009. Berikut
merupakan tabel perkembangan harga eceran BBM bersubsidi.
|
Perkembangan
Harga Eceran BBM Bersubsidi Tahun 2003-2013
|
||||
|
Berlaku
|
Harga (Rupiah
per Liter)
|
|||
|
Tahun
|
Tanggal
|
Bensin Premium
|
Minyak Solar
|
Minyak Tanah
|
|
2013
|
22-Jun
|
6.500,00
|
5.500,00
|
3.000,00
|
|
2009
|
15-Jan
|
4.500,00
|
4.500,00
|
2.500,00
|
|
2008
|
15-Des
|
5.000,00
|
4.800,00
|
2.500,00
|
|
|
01-Des
|
5.500,00
|
5.500,00
|
2.500,00
|
|
|
24-Mei
|
6.000,00
|
5.500,00
|
2.500,00
|
|
2005
|
01-Okt
|
4.500,00
|
4.300,00
|
2.000,00
|
|
|
01-Mar
|
2.400,00
|
2.100,00
|
2.200,00
|
|
2003
|
21-Jan
|
1.810,00
|
1.650,00
|
1.800,00
|
|
|
01-Jan
|
1.810,00
|
1.890,00
|
1.970,00
|
Sumber: www.bps.go.id
Disadari
bahwasanya mengurangi subsidi BBM saja tidak cukup menyelesaikan permasalahan
energi nasional, sebab pada akhirnya akan sama saja jika ternyata masyarakat
kalangan atas masih menggunakan BBM premium, bukan pertamax atau yang lain.
Data dari SUSENAS menunjukkan bahwa 40% masyarakat menengah ke bawah hanya
mendapatkan manfaat sebesar 13,92% dari subsidi BBM. Kalangan yang paling
menikmati manfaat dari subsidi BBM adalah 20% orang paling kaya di Indonesia
dengan bagian sebesar 48,44%. Dengan demikian, subsidi BBM yang diberikan
pemerintah jelas-jelas tidak tepat sasaran dan tidak berpihak secara langsung
kepada orang miskin (BEM FEUI, 2011).
Dari sisi konsumsi,
terdapat dua opsi skenario kebijakan yang masih mungkin dilakukan
pemerintah untuk menekan konsumsi “masyarakat tidak layak pakai premium”.
Pertama, “kreasi” satu bentukan minyak baru, yakni percampuran antara premium
(RON 88) dengan pertamax (RON 92) agar terbentuk satu minyak baru dengan kadar
iso-oktana di tengah-tengah (RON 90). Pemerintah pernah menyebutnya dengan nama
premix. Ketika hal ini dilakukan, perkiraan harganya akan berkisar antara harga
premium dan pertamax, sehingga diharapkan menjadi insentif untuk masyarakat
agar lebih banyak menggunakan premix daripada premium.
Kedua, mendorong pemerintah untuk membuat suatu
peraturan hukum yang memberikan instruksi bagi mobil plat hitam agar
menggunakan pertamax dan menerapkan sanksi berupa denda atau sanksi lain yang
tegas kepada pihak yang melanggar. Pengawasannya dapat diajukan dengan kontrol
langsung dari para petugas pengisi bahan bakar, yang diberikan kewenangan pula
untuk menindak tegas.
4.3 Dampak pengurangan subsidi BBM terhadap
inflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 3,29
persen disebabkan oleh kenaikan Bahan Bakar Mineral (BBM) baik subsidi maupun
non subsidi. Pasalnya BBM mengambil andil 0,77 persen.
Penyebab utama tersebut mengalami perubahan harga
sebesar 25,27 persen. Secara keseluruhan kota IHK mengalami kenaikan 25,23
persen hinggi 25,27 persen. Ini melihat kenaikan pada tanggal 22 Juni serta
Pertamina menaikan Pertamax dan Pertamax Plus.
Ini merupakan hasil inflasi dari konsumsi langsung
BBM, karena ada juga BBM untuk barang pabrik dan lain-lain, kenaikan BBM itu
sudah finalnya, selanjutnya dampak tidak langsung. Dampak tidak langsung
tersebut bisa dikontrol berbeda dengan dampak langsung BBM.
Dampak tidak langsung sudah bisa dilihat dari Tarif
angkutan dalam kota dengan andil inflasi 0,54persen dengan perubahan harga
21,05 persen.
Kenaikan BBM mempengaruhi tarif angkutan terjadi di
66 kota IHK, tertinggi di Kupang dan serang 42 persen dan Disorong 37 persen.
Selain itu, tarif angkutan udara mengalami inflasi
dengan andil 0,08 persen sedangkan perubahan harga sekira 10,23persen. Ini
karena permintaan jasa udara meningkat seiring liburan.
Tarif angkutan antar kota pun mengalami inflasi,
dengan andil 0,07 persen sedangkan perubahan harga sekira 12,15persen. Ini
tentu dampak kenaikan BBM, ini terjadi kenaikan di 63kota, dengan tertinggi di
Ambon 33 persen, sedangkan 3 kota tidak ada transport Batam, Tarakan, dan
Ternate.
Selain itu dampak inflasi tertinggi pun masih
dirasa oleh Bawang merah dengan andil 0,48 persen serta perubahan harga 62,28
persen. Terjadi di 66 kota IHK, tertinggi di Bima mencapai 140 persen dan
tangerang 114 persen.
Daging ayam ras, juga masih terjadi,
dengan andil 0,22 persen, perubahan kenaikan harga 14,59 persen, karena
tingginya banyak permintaan, Ini terjadi kenaikan 62 kota, tertinggi di
Pare-Pare 30 persen dan Kediri 26 persen.
4.4 Dampak inflasi yang disebabkan kenaikan
harga BBM
Berikut ini merupakan dampak-dampak dari kenaikan
harga (inflasi) yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM :
- Menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat
Tingkat kesejahteraan
masyarakat, sederhananya diukur dengan tingkat daya beli pendapatan yang
diperoleh. Inflasi menyebabkan daya beli
pendapatan makin rendah, khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil
dan tetap.
- Makin buruknya distribusi pendapatan
Dengan adanya inflasi,
akan mengakibatkan adanya ekelompok masyarakat yang mampu meningkatkan
pendapatan riil nya, tetapi sebagian besar masyarakat mengalami penurunan
pendapatan riil. Hal ini akan
menyebabkan distribusi pendapatan, dilihat dari pendapatan riil, makin memburuk
- Terganggunya stabilitas ekonomi
Inflasi mengganggu
stabilitas ekonomi dengan merusak perkiraan tentang masa depan (ekspektasi)
para pelaku ekonomi. Inflasi menumbuhkan
perkiraan bahwa harga barang dan jasa akan terus naik. Bagi para pembeli atau konsumen, perkiraan
ini mendorong pembelian barang dan jasa, tujuannya untuk lebih menghemat
pengeluaran konsumsi. Akibatnya, permintaan
barang dan jasa justru dapat meningkat.
Para produsen, perkiraan akan naiknya harga barang dan jasa akan
mendorong mereka menunda penjualan yang akan menyebabkan kuantitas penawaran
berkurang. Akibatnya, kelebihan
permintaan membesar dan mempercepat laju inflasi. Hal ini akan berakibat pada kondisi ekonomi
yang akan semakin menjadi memburuk.
BAB V
Penutup
5.1 Simpulan
Dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan
besarnya subsidi BBM yang dianggap tidak efisien dan salah sasaran ini,
tentunya kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari lagi. Dengan adanya kenaikan harga BBM, tentunya
biaya pokok produksi sebagian besar barang yang ada di pasar akan meningkat. Apabila dihubungkan dengan bunyi teori
permintaan serta teori penawaran, kenaikan harga barang ini dikarenakan oleh
permintaan yang membubung tinggi sementara penyediaan supply barang mengalami
kekurangan. Hal ini tentunya akan
membuat harga barang tersebut menjadi naik dan timbulnya inflasi.
Terjadinya kenaikan harga, tentunya akan membawa
dampak bagi massyarakat. Apabila harga
suatu barang mengalami penurunan, maka daya beli masyarakat dan permintaan
masyarakat akan barang tersebut menjadi naik. Sebaliknya jika harga suatu
barang mengalami kenaikan, maka daya beli masyarakat akan mengalami penurunan.
Sebagaimana yang tercantum dalam hukum permintaan.
Dengan menurunnya pendapatan riil serta daya beli
masyarakat, tentunya ini akan membawa masalah bagi keadaan perekonomian negara,
juga akan menyebabkan semakin besarnya tingkat ketimpangan distribusi
pendapatan, khususnya bagi masyarakat dengan kekuatan ekonomi lemah.
5.2 Saran
Inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM ini
tentunya membawa banyak dampak yang sebagian besar merupakan dampak
negatif. Oleh karena itu, Pemerintah
Indonesia harus segera mengambil suatu tindakan yang bijak, lebih memperhatikan
masyarakat dan harus melindungi masyarakat dari inflasi. Karena inflasi dapat
menurunkan daya beli masyarakat dan juga sangat menyengsarakan masyarakat
miskin. Dengan terus menaiknya inflasi, maka kesejahteraan masyarakat Indonesia
pun kian berkurang. Pemerintah dapat
mengatasi tingkat inflasi ini baik dengan melaksanakan kebijakan fiskal, maupun
kebijakan moneter.
Namun tidak hanya pemerintah yang harus berusaha
untuk mengatasi masalah inflasi ini, tapi masyarakat juga harus mendukung
pemerintah dengan ikut serta dalam penghematan pemakaian bahan bakar minyak
dengan melakukan efisiensi energi pada sektor transportasi. Karena apabila konsumsi masyarakat pada BBM
dapat berkurang, tentunya dampak inflasi serta fluktuasi harga BBM akan dapat
diminimalisasi.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. 2013. Tabel pergerakan IHK dan
Inflasi. www.bps.go.id, diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
Rahardja, Prathama dan Manurung, Mandala. 2008. Teori
Ekonomi Makro. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia
TIM LOPI. 2011. Langkah Sukses Menuju Olimpiade. Jakarta
: PT. Bina Prestasi Insan
http://id.wikipedia.org/wiki/Harga_bahan_bakar_minyak_di_Indonesia,
diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/04/09251590/Inilah.Alasan.Kenapa.Harga.BBM.Harus.Naik., , diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
http://www.bemfeui.com/meneropong-paket-kebijakan-subsidi-bbm/, , diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
http://economy.okezone.com/read/2013/08/01/20/845809/juli-bbm-ambil-andil-sampai-0-77-inflasi, , diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
http://www.carajadikaya.com/dampak-kenaikan-harga-minyak-terhadap-kondisi-ekonomi-indonesia/, , diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
http://politik.kompasiana.com/2013/06/18/cerita-tragis-anggota-dpr-terlibat-pembunuhan-massal-569844.html, , diakses pada tanggal 23 Agustus 2013
Wih... panjang banget ya? :D
BalasHapusFilm Terbaik Film Terbaru Whatsapp Diet