Peran Bank Indonesia
melawan Inflasi yang disebabkan BBM
Dalam rangka tugas pembuatan makalah OSN 2013
Oleh:
Adam Jordan
SMA Kristen Yusuf
DKI JAKARTA
2013
Kata Pengantar
Sebelumnya penulis ingin mengucapkan syukur yang
sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena atas berkat rahmat dan pertolongannya, penulis bisa menyelesaikan
makalah ekonomi yang berjudul “Peran Bank Indonesia melawan Inflasi yang
disebabkan BBM”.
Penulis juga ingin berterimakasih kepada juri-juri serta
panitia OSN 2013 karena telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah
ini. Selain itu, penulis juga ingin
berterimakasih kepada teman-teman peserta OSN provinsi DKI Jakarta, serta
guru-guru yang telah mendukung penulis dalam pembuatan makalah ini dan
memberikan masukan yang sangat berarti dan berguna sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat dengan tujuan mengetahui peran-peran
Bank Indonesia dalam membantu perekonomian indonesia dalam mengatasi inflasi
yang terjadi karena kenaikan harga BBM.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada makalah
ini. Oleh karena itu, penulis ingin
meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan atau sesuatu yang
tidak berkenan. Penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dapat menjadi motivasi
penulis dalam membuat makalah yang lebih baik lagi.
Daftar Isi
Judul.....................................................................................................................................i
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Bank Sentral (Central
Bank) merupakan suatu bank yang diberi tugas oleh pemerintah untuk mengatur dan
mengawasi kegiatan lembaga-lembaga
keuangan yang terdapat dalam perekonomian. Di Indonesia, bank yang berfungsi sebagai
Bank Sentral adalah Bank Indonesia.
Bank Indonesia (BI) yang
mempunyai tujuan untuk mencapai dan kestabilan nilai rupiah memiliki berbagai
tanggung jawab dalam mengatasi masalah yang terjadi yang akan berdampak pada
keuangan Indonesia. Oleh karena itu,
Bank Indonesia juga memiliki tanggung jawab dalam mengatasi inflasi yang
terjadi di Indonesia.
Inflasi seringkali
terjadi di Indonesia. Salah satu
penyebab yang signifikan adalah karena kenaikan BBM. Sebagaimana diketahui bahwa BBM atau Bahan
Bakar Minyak adalah suatu materi yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat. BBM berfungsi sebagai
penyedia energi dalam menjalankan berbagai mesin dan kendaraan.
Dari segi ekonomis,
Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu faktor yang banyak berpengaruh
dalam perekonomian suatu negara. BBM
sangat dibutuhkan oleh berbagai pelaku ekonomi untuk menjalankan aktivitasnya,
baik oleh rumah tangga konsumsi, maupun
rumah tangga produksi atau perusahaan yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM)
untuk melakukan kegiatan produksinya.
Kenaikan harga BBM
belakangan ini disebabkan oleh penurunan subsidi BBM yang disediakan oleh
pemerintah Indonesia. Pemerintah
menurunkan subsidi BBM ini karena dianggap tidak efisien dan salah sasaran,
melainkan hanya menjadi beban yang memperbesar pengeluaran negara yang berujung
pada semakin besarnya defisit APBN negara.
Disinilah tugas BI untuk
mengatasi inflasi tersebut. Melalui
kebijakan-kebijakannya, diharapkan Bank Indonesia (BI) akan mampu mengatasi
inflasi yang terjadi.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas,
dapat disimpulkan beberapa masalah yang bisa dianalisis, diantaranya:
1.
Apa penyebab kenaikan harga BBM?
2.
Seperti apa inflasi yang disebabkan kenaikan harga
BBM?
3.
Apa yang dimaksud dengan Bank Indonesia?
4.
Apa peran Bank Indonesia dalam mengatasi inflasi?
1.3 Batasan Masalah
Makalah ini dibatasi
pada kenaikan harga-harga barang atau inflasi yang disebabkan kenaikan harga
BBM. Penyebab kenaikan harga BBM
difokuskan pada karena pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah. Selain itu, inflasi yang terjadi dibatasi
pada inflasi yang terjadi pada tahun 2013.
1.4 Tujuan Penelitian
Makalah ini dibuat
dengan tujuan:
1.
Mengetahui penyebab kenaikan harga BBM
2.
Seberapa besar inflasi yang disebabkan harga BBM
3.
Mengetahui peran Bank Indonesia dalam mengatasi
inflasi
1.5 Landasan Teori
1.5.1 Inflasi
1.5.1.1 Pengertian Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat
umum dan terus-menerus.
1.5.1.2 Penggolongan Inflasi
Inflasi dapat digolongkan sebagai berikut:
1.
Penggolongan didasarkan atas parah tidaknya inflasi
a.
Inflasi ringan (kurang dari 10% per tahun)
b.
Inflasi sedang (lebih dari 10%, namun kurang dari
30% per tahun)
c.
Inflasi berat (lebih dari 30%, namun kurang dari
30% per tahun)
d.
Hiperinflasi (lebih dari 100% per tahun)
2.
Penggolongan didasarkan sumber penyebabnya
a.
Inflasi tarikan permintaan (Demand-pull inflation)
b.
Inflasi dorongan biaya (Supply-push inflation)
c.
Inflasi campuran (Mixed Inflation)
3.
Penggolongan didasarkan atas inflasi
a.
Domestic Inflation (Inflasi yang dberasal dari
dalam negeri)
b.
Imported inflation (Inflasi yang berasal dari luar
negeri)
1.5.1.3 Menghitung angka inflasi
Perkembangan harga-harga di Indonesia dapat dilihat dari
tiga macam tingkat harga dengan cara menghitung indeks harga (price index),
yaitu:
1.
Indeks Harga Konsumen (IHK)
2.
Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)
1.5.2 Penawaran
1.5.2.1 Definisi Penawaran
Penawaran dapat didefinikan sebagai jumlah barang yang
produsen ingin tawarkan atau jual pada berbagai tingkat harga selama satu
periode tertentu.
1.5.2.2 Hukum Penawaran
Hukum penawaran berbunyi: “Semakin tinggi harga suatu
barang, cateris paribus, maka semakin banyak jumlah barang tersebut yang ingin
ditawarkan oleh penjual, dan sebaliknya semakin rendah harga suatu barang, maka
semakin sedikit jumlah barang yang ingin ditawarkan oleh penjual.”
1.5.2.3 Faktor Penawaran
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi penawaran suatu
barang adalah:
1.
Harga barang itu sendiri
2.
Harga barang lain yang terkait
3.
Harga faktor produksi
4.
Biaya produksi
5.
Teknologi produksi
6.
Jumlah penjual
1.6 Hipotesis
Berdasarkan hipotesis
peneliti, kenaikan harga BBM disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya
adalah karena pengurangan subsidi BBM.
Kenaikan harga BBM tersebut juga akan berkontribusi besar pada naiknya
harga-harga barang-barang di pasar yang akhirnya akan menimbulkan inflasi.
Bank Indonesia mempunyai
peran untuk mencegah terjadinya inflasi dengan melakukan berbagai kebijakan
moneter.
BAB II
Pembahasan
2.1 Penyebab Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga Bahan
Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh berbagai
faktor. Faktor-faktor tersebut berasal
baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Penyebab-penyebab
kenaikan harga BBM tersebut adalah:
1.
Naiknya harga minyak dunia yang membuat pemerintah
tidak dapat menjual BBM pada tingkat harga yang sama seperti sebelumnya.
2.
Harga BBM di Indonesia dianggap terlalu murah
dibandingkan harga BBM yang dijual di negara lain.
3.
Penguasaan 70 persen sumber Migas ternyata banyak
dikuasai negara asing diantaranya, Total, Conoco, Chevron, Exxonmobil, British
Petrolium.
Penyebab-penyebab
kenaikan harga minyak dunia tersebut akan mendorong pemerintah untuk ikut
menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Karena apabila pemerintah tetap mempertahankan harga BBM dengan tidak
menaikkan harga BBM, hal tersebut akan terus menekan APBN yang akan menyebabkan
perekonomian Indonesia semakin parah.
Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk mencabut dan mengurangi
subsidi BBM yang akhirnya akan mendorong kenaikan harga BBM, sebagaimana
dijelaskan dalam teori penawaran bahwa subsidi akan menyebabkan kurva penawaran
(supply curve) berkurang dan bergeser ke kanan.
Oleh karena itu, harga pasar BBM akan mengalami kenaikan.
2.2 Inflasi yang disebabkan kenaikan harga
BBM
Kenaikan harga BBM akan menyebabkan kenaikan harga-harga
barang lain yang akhirnya akan menyebabkan perekonomian negara mengalami
inflasi. Hal ini disebabkan karena
sebagian besar barang-barang di pasar menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak)
sebagai bahan pokok dalam memproduksi barang tersebut. Misalnya, harga apel naik, dikarenakan untuk
membawa apel itu kota, dibutuhkan transportasi yang membutuhkan BBM untuk dapat
beroperasi.
Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan inflasi yang
terjadi tiap periode yang terjadi pada tahun 2013 dari bulan Januari sampai
dengan bulan Juli.
|
Tabel Inflasi dan IHK INDONESIA Tahun 2013
Menurut Bulan
|
||
|
BULAN
|
TAHUN 2013
|
|
|
IHK
|
INFLASI
|
|
|
Jan
|
136.88
|
1.03
|
|
Feb
|
137.91
|
0.75
|
|
Mar
|
138.78
|
0.63
|
|
Apr
|
138.64
|
-0.10
|
|
Mei
|
138.60
|
-0.03
|
|
Jun
|
140.03
|
1.03
|
|
Jul
|
144.63
|
3.29
|
Dari tabel tersebut bisa
kita lihat, bahwa inflasi atau kenaikan harga yang terjadi pada bulan Juli jauh
lebih besar dibandingkan kenaikan harga pada bulan lainnya, yaitu tingkat
inflasi mencapai 3.29, dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 140.03
menjadi 144.63.
2.3 Bank Indonesia
Bank sentral di suatu
negara, pada umumnya adalah sebuah instansi yang bertanggung jawab atas kebijakan
moneter di wilayah negara tersebut. Bank Sentral berusaha untuk menjaga
stabilitas nilai mata uang, stabilitas sektor perbankan, dan sistem finansial
secara keseluruhan.
Di Indonesia, fungsi
bank sentral diselenggarakan oleh Bank Indonesia.
Bank sentral adalah
suatu institusi yang bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas harga atau
nilai suatu mata uang yang berlaku di negara tersebut, yang dalam hal ini
dikenal dengan istilah inflasi atau naiknya harga-harga yang dalam arti lain
turunnya suatu nilai uang. Bank Sentral menjaga agar tingkat inflasi terkendali
dan selalu berada pada nilai yang serendah mungkin atau pada posisi yang
optimal bagi perekonomian (low/zero inflation), dengan mengontrol keseimbangan
jumlah uang dan barang. Apabila jumlah uang yang beredar terlalu banyak maka
bank sentral dengan menggunakan instrumen dan otoritas yang dimilikinya.
Bank Indonesia (BI, dulu
disebut De Javasche Bank) adalah bank sentral Republik Indonesia. Sebagai bank
sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek,
yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan
terhadap mata uang negara lain.
Untuk mencapai tujuan
tersebut BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya.
Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter,
mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi
perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2.4 Peran Bank Indonesia dalam menangani
inflasi
Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia (BI), disebutkan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga
yang independen. Independen diartikan
sebagai lembaga negara yang bebas dari campur tangan terhadap pelaksanaan tugas
BI.
Sesuai dengan
undang-undang tersebut, maka dapat diketahui bahwa Bank Indonesia mempunyai
tujuan utama yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Indonesia
3 tugas utama, yaitu:
1.
Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
2.
Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
3.
Mengatur dan mengawasi bank
Kestabilan nilai rupiah
tercermin dari tingkat inflasi dan nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya harga
barang-barang secara umum. Faktor-faktor
yang mempengaruhi inflasi dapat dibagi 2 macam, yaitu tekanan inflasi yang
berasal dari sisi permintaan dan sisi penawaran. Dalam hal ini, BI hanya memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan.
Untuk mengatasi inflasi,
BI akan mengambil kebijakan-kebijakan untuk mengendalikan jumlah uang beredar. Kebijakan-kebijakan ini disebut Kebijakan
Moneter. Jika Bank ingin menambah jumlah
uang beredar, BI akan menempuh kebijakan moneter ekspansif (monetary expansive)
atau easy money policy. Sebaliknya jika
pemerintah ingin mengurangi jumlah uang beredar yang akhirnya akan menghambat
inflasi, pemerintah akan menempuh kebijakan moneter kontraktif (monetary
contractive) atau dikenal juga sebagai tight money policy.
Untuk melaksanakan
kebijakan moneter, BI mempunyai beberapa instrumen kebijakan moneter yang dapat
dilakukan, diantaranya:
1.
Kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif
a.
Open Market Operation
Untuk mengurangi
inflasi, pemerintah akan melakukan pembelian surat berharga di pasar uang, yang
berupa Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).
b.
Discount Rate Policy
Dalam rangka mengurangi
inflasi, kebijakan ini akan dilakukan oleh BI dengan cara menaikkan tingkat
diskonto. Yang dimaksud dengan tingkat
diskonto adalah tingkat bunga yang ditetapkan bank sentral atas bank-bank umum
yang meminjam dana ke bank sentral.
c.
Reserved Requirement
Ratio
Untuk menghambat
inflasi, BI akan menaikkan GWM sehingga kemampuan bank dalam memberikan kredit
akan lebih kecil dibanding sebelumnya.
2.
Kebijakan moneter yang bersifat kualitatif
a.
Selective Credit Control
Kebijakan ini bertujuan
mengurangi jumlah uang beredar dengan cara menentukan syarat pengajuan kredit
yang ketat, yaitu lebih memperhatikan 5c
b.
Moral Persuasion
BI akan mengingatkan
bank-bank umum untuk menerapkan prinsip kehati-hatian.
Dikarenakan kontrol BI
atas inflasi sangat terbatas, BI selalu melakukan assessment atau evaluasi
terhadap perkembangan perekonomian. Oleh
karena inflssi tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan moneter, dibutuhkan
juga kebijakan ekonomi makro lainnya seperti kebijakan fiskal dan kebijakan di
sektor riil. Untuk itulah, BI akan
berkoordinasi dan bekerja sama dengan lembaga sektoral lainnya untuk mengatasi
inflasi.
BAB III
Penutup
3.1 Simpulan
Dengan kebijakan pemerintah
yang mengurangi subsidi BBM karena BBM dianggap terlalu besar memakan porsi
pengeluaran APBN, serta subsidi BBM yang dianggap tidak tepat sasaran dan tidak
efisien, maka harga BBM pun dinaikkan.
Harga BBM yang naik ini akan berdampak besar terhadap harga-harga barang
lainnya yang memerlukan BBM sebagai bahan pokok produksinya.
Oleh karena kenaikkan
harga BBM ini, inflasi pun tidak dapat dihindarkan lagi. Oleh karena itu, diperlukan peran dari
berbagai pihak guna menanggulangi inflasi itu, yang salah satu nya yang paling
berperan adalah Bank Sentral indonesia.
Bank Sentral Indonesia
sebagai lembaga yang independen, memiliki kemampuan untuk mengambil berbagai
kebijakan moneter guna menurunkan tingkat inflasi. Namun Bank Indonesia tidak akan mampu
berusaha sendiri tanpa dukungan dari lembaga-lembaga sektoral lainnya. Oleh karena itu, koordinasi dan kerjasama
lembaga lintas sektoral sangatlah penting untuk mengatasi tingkat inflasi yang
terlalu besar.
3.2 Saran
Seperti dikemukakan di
atas bahwa kontrol BI atas inflasi sangat terbatas, karena inflasi dipengaruhi
oleh banyak faktor. Oleh karena itu
untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil,
diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari seluruh pelaku ekonomi, baik
pemerintah maupun swasta. Tanpa dukungan
dan komitmen tersebut niscaya tingkat inflasi yang sangat tinggi selama ini
akan sulit dikendalikan.
Oleh karena itu, sebagai
konsumen, diperlukan juga kesadaran dengan tidak boros menggunakan BBM sebagai
salah satu faktor yang paling berkontribusi pada kenaikan tingkat inflasi. Selain bergantung kepada BBM, perlu dicari
juga alternatif sumber energi lainnya, sehingga kenaikan harga BBM tidak akan
berdampak terlalu besar kepada naiknya harga-harga barang.
Daftar Pustaka
Tim Lopi. 2011. Langkah Sukses Menuju Olimpiade Ekonomi Edisi
Kedua. Jakarta: Bina Prestasi Insani
http://www.bi.go.id
http://news.okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar